Minggu, 16 September 2012

Hasil Diskusi Kelompok 5 Mengenai Analisa Kasus Menggunakan Teori Pembelajaran Skinner

Kelompok 5 :

Lisa Chairani (10-015)
Juanita Sari Br. Tarigan (10-019)
Christian Yosie (10-099)
Christin Siahaan (10-107)


Mungkin para pembaca sudah mengetahui teori umum dari Skinner adalah Skinner Box, dimana seekor tikus diestrum dengan tegangan rendah, jika tikus menyentuh dinding kotak setrum akan dihilangkan (dihentikan). Respon menyentuh tembok akan diperkuat (tikus makin sering menyentuh tembok) karena respon ini akan menghentikan setrum. Dalam situasi itu, setrum adalah stimulus diskriminatif, responnya adalah menyentuh tembok dan penguatnya adalah penghentian setrum, secara spesifik, penguat negative didefenisikan sebagai stimulus pengurangan atau penghilangan yang memperkuat perilaku (Skinner, 1989, h 127; Margaret learning and instruction, h128).
Seperti contoh pengalaman masing-masing kelompok yang telah didiskusikan, perilaku yang terjadi semua dikarenakan stimulus, dan ketika stimulus diberikan respon meningkat dan mengubah perilaku dengan penguat positif ataupun negative. Dengan kata lain stimulus diskriminatif (SD), Respon (R), dan Stimulus penguat (S reinf). Seperti contoh pengalaman pribadi masing-masing kelompok yang mengasumsi akhir positif atau negative karena adanya stimulus diskriminatif dalam kehidupan sehari hari. Stimulus diskriminatif terebut membuat kita merespon akan stimulus tersebut kemudian kita akan mendapatkan konsekuensinya, konsekuensi tersebut yang nantinya akan menjadi penguat perilaku kita.  Kita memperkuat atau meningkatkan frekuensi perilaku yang postif atau negatif tergantung kepada konsekuensi yang kita dapatkan dari hasil stimulus respon yang kita lakukan sebelumnya. 
Kalau dikaitkan dengan pembelajaran, hal ini terkadang bagus untuk dijadikan pendekatan untuk anak-anak. Untuk menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak-anak seperti rajin belajar, gak bandel, dll kita bisa membuat stimulus diskriminatif yang bisa menghasilkan perilaku baru atau menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak tersebut, seperti dikasih permen kalau prnya udah selesai, dapat reward kalau juara, gak dapat hadiah kalau gak dapat juara, dsb. mungkin hal ini akan direspon baik oleh anak, dan alahasil, respon yang diberikan oleh anak menghasilkan perilaku baru atau perilaku yang kita inginkan, kemudian konsekuensinya itu lah yang nantinya memberikan sebuah penguatan bagi perilaku anak tersebut. dia kan terus melakukan hal yang sama jika stimulus dan konsekuensi yang didapatkan oleh anak sama. 
tapi hal ini juga akan mengalami masalah, karena anak belajar bukan karena keinginan pengetahuan mereka sendiri tapi karena ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan ( konsekuensinya ). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar