Selasa, 14 Mei 2013

Menginspirasi Siswa



Pada buku Paedagogi, Andragogi, & Hutagogi, Prof. Dr. Sudarwan Danim bagian 2 hal 15, pengajaran adalah semua tindakan yang terjadi dalam kerangka kegiatan mengajar yaitu merencanakan, melaksanakan, menilai, menganalis hasil melakukan refleksi & membuat tindakan lanjut untuk perbuatan mengajar lainnya.
Elemen umum yang terlihat dalam semua aktivitas mengajar meliputi tujuan bahan ajar interksi guru dan siswa, dengan perekat kemampuan pengelolaan kelas & evaluasi dengan hasil  belajar sebagai hasilnya. Interaksi guru dan siswa mengelaborasikan bahan ajar dengan kemampuan pengelolaan kelas untuk mencapai tujuan tertentu yang hasil belajarnya akan dievaluasi, itulah yang disebut proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran tidak jarang akan ditemukan kekeliruan interaksi antara siswa dan guru harus mampu menerapkan teacher centered atau student centered. Pada kekeliruan interaksi atau pengajaran guru harus mampu dan tau cara memotivasi siswanya.
Pola pembelajaran bisa berupa interaksi siswa dan guru secara langsung (tatap muka) bias juga secara online (e-learning). Kegiatan mengajar yang baik dipandang sebagai proses akademik dimana siswa remotivasi belajar secara berkelanjutan, substansial, dan positif, terutama berkaitan dengan bagaimana mereka berfikir, bertindak dan merasa yang akan mengangkat motivasi siswa belajar ke tingkat yang lebih tinggi disbanding dengan efek mengajar biasa.
Contoh pola pembelajaran tatap muka langsung yang memotivasi siswa salah satu caranya adalah sebelum masuk ke kelas pada pertemuan minggu depan, guru harusnya memberikan informasi tentang bab minggu depan yang harus dipelajari siswa dan mengaitkannya dengan multimedia yang ada. Atau guru juga bisa menugaskan siswa mereview pelajaran hari ini dengan pemahaman masing-masing  dan dikumpulakan minggu depan pada perteemuan berikutnya, hasil review setelah dikumpul akan dikembalikan lagi kepada siswa agar bias dibaca ulang sebagai bahan tambahan. Selain itu bentuk hasil review juga bias dibuat hasil karya sekereatif mungkin. Contoh pembelajaran e-learning guru bias menugaskan siswa menggunakan social media yang ada sebagai tempat pengumpulan tugas, jadi social media bias dimanfaatkan sebagai kesenangan dan pengetahuan baru, contohnya seperti review pengumpulan tugas melalui blog, sebagai siswa SMA, guru TIK bias tidak masuk kelas atau lab.komputer, guru hanya mengabsen siswa dari ruangannya menggunakan G-Talk, dengan catatan siswa tetap masuk lab.komputer dengan mengerjakan perintah guru walaupun tidak ada guru yang mengawasi mereka di lab.komputer, setelah mengerjakan tugas para siswa di haruskan mengirim bukti pekerjaan kepaa guru melalui G-Talk.
Tulisan ini adalah hasil pelajaran yang saya dapat dari dosen saya yang sangat kreatif dalam memotivasi siswa dan menjadi inspiras, tulisan ini juga dibahas dengan buku jadi, mohon kritik dan saran para pembaca ya. Terima kasih.

Minggu, 05 Mei 2013

Tugas Observasi Kelompok 5





Tema : Pengenalan Warna 

 
a. Landasan teori
1.      Pengertian Warna
      Warna merupakan unsur-unsur keindahan, karena dengan warna semua akan menjadi indah. Menurut Sulasmi Darma Prawira dalam warna sebagai salah satu  unsur seni dan desain, (1989) mengemukakan  warna adalah “ Salah satu keindahan dan desain selain unsur visual seperti garis, bidang, bentuk nilai dan ukuran”.
Teori warna menurut ilmu alam dan pigmen dijelaskan bahwa warna dan ilmu alam terdiri dari dua unsur spectrum (cahaya). Warna ada tiga spectrum yang mempunyai panjang yang sama yaitu sinar merah, sinar kuning dan sinar biru. Sementara para ahli psikologi mempunyai gagasan yang berbeda, bila warna merah, kuning dan biru adalah warna-warna utama yang pigmen.
Seorang ahli warna yang bernama Brewster pada tahun 1831 telah menyederhanakan warna menjadi empat kelompok yaitu warna primer, sekunder, tersier dan netral . Berikut merupakan penjelasan mengenai empat kelompok warna tersebut :
·         Warna Primer
Merupakan warna utama atau pokok yaitu merah,kuning,dan biru
·         Warna Sekunder
Merupakan warna kedua yang terjadi dari golongan antara dua warna primer, warna tersebut adalah merah campur biru jadi violet. Merah campur kuning jadi orange
biru dicampur kuning  jadi orange, biru dicampur kuning menjadi hijau.
·         Warna Tersier
Merupakan warna-warna campuran dari dua warna binari misalnya violet dicampur dengan hijau dan sebagainya
·         Warna netral
Merupakan warna penyeimbang warna-warna kontraks
2. Kemampuan mengenal warna pada anak
Gagne pada tahun 1988 berpendapat bahwa kemampuan adalah  kesanggupan dalam keadaan yang tetap. Berdasarkan pengertian diatas kemampuan mengenal warna melalui proses pembelajaran ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan kognitif pada anak dalam hal mengenali warna. Dalam proses pembelajaran anak akan dikenalkan pada warna dan diharapkan anak dapat mengeahui warna melalui pengalaman belajarnya.
3. Pembelajaran mengenal warna
Prof. Dr. Sudarwan Danim dalam pedagogi, andragogi dan heutagogi mengemukakan bahwa mengajar merupakan seni dan ilmu mentranformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Saat ini, kemampuan mengajar bukan hanya dibutuhkan oleh seorang guru tetapi harus juga dimiliki oleh mahasiswa Karena kemampuan mengajar itu telah mencakup seni kerjasama.
b. Tujuan :
Ingin mengetahui kemampuan kognitif pada anak berusia 4-5 tahun dalam hal mengenali warna, yaitu menunjukkan warna dan menyebutkan warna.
Subjek: 3 orang anak : Reihan 4 tahun, Vira 4 tahun, Keyla 5 tahun
c. Manfaat : Membantu anak untuk mengenal warna

5. Pelaksanaan
Lokasi :
Rumah Keyla Jl. Dwikora III No. 4F, Marindal Medan 
Waktu
Senin , 01 April 2013 pukul 13:00-14.00
Kegiatan
·         13.00               Datang ke lokasi
·         13:00-13:15     ramah tamah dengan pemilik rumah
·         13:15- 13:25    mengajar warna
·         13:25-13:35     mewarnai
·         13:35-14:00     Games + Pemberian Reward

Perincian Biaya
1.      Alat mewarnai               =          Rp. 28.500
2.      Rewards                       =          Rp.    5000

Simpulan Hasil Observasi :

Anak diberikan kesempatan untuk mewarnai gambar yang telah di berikan contoh warnanya, sebelum memulai mewarnai anak diinstruksikan untuk menyebutkan warna yang ada di contoh gambar dan mengaplikasikannya dengan cara mewarnai kembali gambar tersebut.  Apabila pada kesempatan menyebutkan warna, anak menyebutkan warna dengan benar maka ia dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu mewarnai gambar sesuai contoh dan warna yang telah disebutnya. Jika salah maka anak di suruh kembali untuk mengulang menyebut contoh warna yang tertera pada gambar. Dengan demikian anak diajarkan untuk mengenal dan membedakan warna yang sudah tertera pada contoh gambar. Setelah menyelesaikan tahap ini, anak kembali diminta untuk menyebut dan menunjukkan warna dengan benar yaitu anak di berikan stimulus berupa gambar Alfabet dan buah yang berwarna warni jika anak memberikan respon yang sesuai maka anak tersebut sudah dikategorikan mampu (mengenali warna yaitu menunjukkan dan menyebutkan warna)

Testimoni : sangat mengesankan sebagai pengajar sekaligus observer, ketika ada anak yang menangis dan tidak mau ikut serta dalam kegiatan mewarnai, kami kewalahan membujuknya. walaupun sebenarnya kami sudah pernah memberikan pelatihan mewarnai kepada anak-anak yang menjadi objek kami.